Melihat AI dan Robot di Smart City Summit & Expo 2026
TAIPEI – Selama ini kecerdasan buatan (AI), robot, dan kendaraan listrik (EV) lebih sering saya kenal dari berita.
Namun di Smart City Summit & Expo (SCSE) 2026 di Taipei, Taiwan, semuanya terasa jauh lebih dekat. Istilah-istilah yang terdengar canggih itu bukan lagi wacana, melainkan teknologi yang benar-benar ada dan digunakan.
Di ajang yang digelar pada Selasa (17/03/2026) hingga Jumat (20/03/2026) ini, Taipei berubah menjadi etalase besar bagi masa depan kota pintar (kota pintar).
Dari AI, energi cerdashingga robot yang bisa membantu operasi kota, pameran ini menunjukkan bahwa kota pintar bukan lagi konsep abstrak. Ia sedang dibangun, satu per satu, lewat kerja sama antara pemerintah, industri, dan penyedia teknologi.
Salah satu sorotan paling menarik bagi saya datang dari ASUSTeK (Asus), perusahaan teknologi Taiwan. Mereka memperkenalkan strategi “Sovereign AI” untuk kota pintar.
Sederhananya, ide ini bicara soal satu pertanyaan besar yang kini makin penting: siapa yang menguasai data perkotaan? Alih-alih mengirim data sensitif warga ke server asing, konsep ini mendorong kota untuk memiliki dan mengelola sistem AI mereka sendiri.
Asus memperkenalkan arsitektur “AI City” lima lapis, mulai dari komputasi, model AI, platformaplikasi, hingga inovasi, yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas tiap kota.
Menurut Asus, pendekatan ini sudah diuji di Taipei dan Taichung, dua kota besar di Taiwan. Asus dan Taiwan AI Cloud bahkan menampilkan Formosa Foundation Model, sebuah model yang dilatih untuk memahami data linguistik dan konteks budaya lokal.
Bagi saya, di sinilah poin menariknya: AI tidak lagi hanya soal kecanggihan teknis, tapi juga soal kedekatan dengan kebutuhan lokal.
“Tujuan kami adalah memberdayakan setiap kota agar menjadi lebih tangguh, efisien, dan berpusat pada manusia,” ujar Samson Hu, co-CEO Asus sekaligus presiden Taiwan Smart City Solutions Alliance.
Pernyataan tersebut, menurut saya, terasa sejalan dengan tema besar pameran tahun ini: teknologi memang penting, tapi teknologi yang baik adalah teknologi yang benar-benar membantu manusia.
Ketika Teknologi Dapat Dilihat Langsung
Di area lain pameran, teknologi itu juga tampil dalam bentuk yang lebih mudah dilihat. Chunghwa Telecom, operator telekomunikasi asal Taiwan, memamerkan Smart Railway Digital Twin Technology yang menggunakan koneksi 5G dan analitik berbasis AI untuk meniru data operasional kereta secara waktu nyata.

Tujuan teknologi ini sederhana, tapi penting. Mereka ingin membantu efisiensi operasional dan koordinasi di antara tim pemeliharaan.
Bagi pengunjung, inilah contoh konkret bagaimana konsep kembaran digital bukan sekadar istilah canggih, melainkan alat untuk membuat sistem transportasi bekerja lebih cepat dan lebih presisi.
Di sisi energi, pameran ini juga menegaskan satu hal penting: kota pintar tidak bisa berdiri tanpa sistem listrik yang kuat.
Paviliun Virtual Power Plant menampilkan bagaimana sumber energi terdistribusi bisa dikelola seperti satu jaringan besar yang lebih fleksibel dan tahan terhadap gangguan.
Salah satu contoh yang diangkat adalah proyek Tainan Tree Valley Park, yang disebut sebagai pusat listrik bebas karbon 24/7 pertama di Taiwan. Ini memperlihatkan bahwa transisi energi dan kota pintar kini berjalan beriringan, bukan sebagai dua agenda yang terpisah.
Kehadiran delegasi internasional, termasuk Tokyo Metropolitan Government dan sejumlah produsen Jepang, juga membuat pameran ini terasa lebih global.
Mereka membawa proyek Tokyo Digital Twin Project, yang menghubungkan ruang siber dan infrastruktur fisik untuk membantu perencanaan kota dan respons bencana.

Dari sudut pandang masyarakat seperti saya, yang membuat Smart City Summit & Expo 2026 menarik bukan hanya sekedar angkanya saja stanforum, atau tokoh besar yang hadir.
Yang lebih penting adalah pergeseran cara pandang yang terlihat di sana. Kota tidak lagi sekadar menjadi pengguna teknologi. Mereka mulai diposisikan sebagai pemilik sistem, pengelola data, dan penentu arah inovasi.
Dan bagi saya, di situlah momen paling terasa: semua topik yang biasanya hanya saya baca dan tulis di layar, kini benar-benar berdiri di depan mata.
Adinda Pryanka menghadiri SCSE 2026 atas undangan Taipei Computer Association.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.