Fenomena Homeless Media: Peluang atau Tantangan?
6 mins read

Fenomena Homeless Media: Peluang atau Tantangan?


Penyebaran informasi kini mengalami perubahan besar dengan munculnya tunawisma media.

Jika dulu publik mengandalkan media arus utama sebagai rujukan informasi, kini keberadaan tunawisma media atau media tanpa redaksi semakin memudahkan publik mengakses dan menyebarkan informasi.

Fenomena ini bukan hanya memperluas pilihan sumber informasi, tetapi juga menghadirkan tantangan dan peluang baru dalam upaya menyampaikan informasi kepada audiens yang lebih luas.

RadVoice Indonesia menjelaskan tentang fenomena ini sebagai berikut.

Apa Itu Tunawisma Media?

Tunawisma media atau media tanpa rumah merujuk pada media yang memanfaatkan media sosial untuk membagikan konten atau informasi.

Mengutip Jurnal Universitas Multimedia Nusantara (UMN), tunawisma juga dipahami sebagai media yang tidak memiliki situs web atau aplikasi mereka sendiri.

Beberapa media tunawisma di Indonesia di antaranya adalah akun @infojakarta_ di Instagram yang kerap menginformasikan kejadian di wilayahnya.

Kemudian ada juga Folkative, Volix Media, Opini.id, dan Nuice yang kerap muncul di platform X.

Tanpa perlu mengelola situs web dan staf, media ini menjadi konsep yang dinilai lebih efisien.

Bermodalkan informasi dari publik, tunawisma media hanya perlu memilah konten yang cocok dan mengolahnya untuk dipublikasikan melalui media sosial.

Cara Kerjanya Media Tunawisma?

Beberapa tunawisma media yang ada di media sosial rupanya muncul dari ketidaksengajaan.

Hasil kajian Remotivi menunjukkan, kemunculan media ini berawal dari akun yang semula hanya untuk mewadahi informasi komunitas, hobi, atau promosi berbayar yang kebanyakan beroperasi di Instagram.

Nanun akun-akun tersebut kemudian berubah setelah meningkatnya keterlibatan dengan menyediakan berita lokal, hingga warga yang sukarela mengirimkan rekaman peristiwa.

Fleksibilitas pun memungkinkan tunawisma media untuk merespons kiriman audiens tersebut dengan cepat.

Audiens biasanya mengirimkan langsung informasi yang diperoleh melalui pesan langsung (pesan langsung) atau menandai ke akun yang dituju. Harapannya, media dapat membagikan konten tersebut agar menjangkau audiens yang lebih luas.

Baca juga: Tantangan Etika Jurnalistik: Bagaimana Menyikapi Netizen Sebagai Sumber Berita?

Kemunculan homeless media ini berawal dari akun yang semula hanya untuk mewadahi informasi komunitas, yang kebanyakan berada di Instagram. (Foto oleh Freepik)

Akun tunawisma bahkan media ini hanya perluposting ulang atau posting ulang dan menambahkan deskripsi singkat dalam keterangan.

Namun ada juga konten yang diproduksi sendiri oleh tunawismas media dengan kualitas foto atau video yang lebih baik dan laporan yang lebih komprehensif.

Hasil kajian Remotivi juga menunjukkan bahwa beberapa pengelola tunawisma media ini kerap menggunakan sumber resmi seperti kepolisian, pemadam kebakaran, atau pemerintah daerah.

Situs media arus utama dan lembaga atau pemerintah juga menjadi rujukan sumber informasi mereka.

Tantangan Tunawisma Media

Tantangan yang dihadapi tunawisma media adalah informasi yang dibagikan sangat berisiko salah atau hoaks.

Dari catatan Remotivi, para pengelola media ini juga menyadari bahwa media jenis ini terkenal menyebarkan hoaks.

Media tanpa rumah ini kadang mempublikasikan informasi yang tidak terverifikasi. Hal ini berbeda dengan media arus utama yang perlu melalui proses verifikasi dan penyuntingan oleh redaksi terlebih dulu sebelum mempublikasikan.

Cara mereka mengklarifikasi kesalahan informasi itu pun kadang hanya dilakukan dengan menghapus unggahan tersebut.

Tantangan yang dihadapi media ini adalah informasi yang dibagikan sangat berisiko salah atau hoaks. (Foto oleh Freepik)

Kendati demikian, terdapat sejumlah media yang mengaku melakukan verifikasi singkat atas informasi yang mereka terima.

Salah satunya wargajakarta.id yang segera memeriksa kanal informasi seperti grup WhatsApp, Facebook, Instagram, atau X tiap kali menerima informasi dari audiens.

Terkait banjir, misalnya, maka media ini akan memasukkan kata kunci seperti “banjir Jakarta” untuk melihat apakah informasi serupa muncul untuk membuktikan kebenarannya.

Di sisi lain, keberadaan media ini juga dikritik karena tak dilindungi UU Pers. Artinya, mereka tak wajib mengikuti prinsip verifikasi dan profesionalisme jurnalis lainnya.

Namun beberapa kontennya kerap mengambil dari media arus utama.

Contoh Media Tunawisma di Indonesia dan Internasional

Sebagai jenis media yang hidup tanpa bergantung pada kanal formal seperti portal berita atau platform media tradisional, umumnya tunawisma media berkembang di platform Instagram dan X.

Di ranah internasional, beberapa contoh yang sering disebut adalah buletin independen seperti The Hustle, Morning Brew, dan konten kreator berbasis email atau Substack yang memiliki audiens besar tanpa harus memiliki portal berita utama, dan siapa saja bisa mendaftar menjadi kreator.

Mereka mengandalkan kekuatan komunitas, email daftardan distribusi organik di media sosial untuk menjangkau pembaca.

Di Indonesia, fenomena media tunawisma bisa dilihat dari berkembangnya kreator-kreator independen yang membangun audiens sendiri tanpa rumah media. Akun-akun besar seperti Good News From Indonesia, USS Feed, dan jktinfo.

Selain itu, contoh lainnya seperti pada cerita sosok yang pernah dibahas Radvoice, yaitu bagaimana redaktur pelaksana Auto Jago Indonesia, Iqbal Zakky, memanfaatkan media sosial untuk membangun kredibilitas di dunia otomotif tanpa bergantung pada media mainstream.

Selain itu, banyak buletin independen, akun Instagram edukatif, dan kanal YouTube ceruk yang kini berfungsi sebagai “media alternatif” dengan komunitas yang kuat.

Fenomena ini mirip dengan pergeseran konsumsi media dari jurnalisme cepatmenjadi jurnalisme lambatserta beberapa blog-blog independen yang berkembang seperti ngertisaham ataupun yang menempel pada platfrom seperti Pinterest, mengunggah gambar, bercerita, dan menjadikannya bisnis.

Bagaimana Peluang dan Tantangan Tunawisma Media untuk Brand?

Fenomena tunawisma media membawa dua sisi bagi brand, yaitu peluang besar sekaligus tantangan yang perlu diantisipasi.

Dari sisi peluang, ia memberikan ruang kolaborasi yang lebih fleksibel, personal, dan relevan.

Brand bisa bekerja sama dengan kreator atau media independen yang memiliki komunitas loyal dan tingkat engagement tinggi. Konten yang dihasilkan cenderung lebih autentik dibanding advertorial formal di media arus utama.

Namun, dari sisi tantangan, tunawisma media tidak memiliki standar redaksi yang seragam, sehingga brand harus berhati-hati dalam memilih mitra. Kredibilitas setiap kanal bisa berbeda-beda, dan risiko misinformasi atau misinterpretasi lebih besar.

Selain itu, tunawisma media memiliki gaya komunikasi yang sangat personal sehingga tidak semua brand cocok masuk ke dalam ekosistem ini.

Pada akhirnya, tunawisma media bisa menjadi peluang besar jika brand mampu memilih kreator yang tepat, memahami dinamika audiens mereka, dan membangun narasi yang sesuai platform.

Sebaliknya, jika dilakukan tanpa strategi, tunawisma media dapat menjadi tantangan baru dalam manajemen reputasi.

Kesimpulan

Keberadaan tunawisma media saat ini tak bisa dihindari. Kebutuhan akan informasi yang cepat dan mudah diakses mendorong konten tersebar di berbagai platform media sosial.

Meski demikian, risiko misinformasi juga harus diantisipasi. Akurasi konten harus tetap menjadi prioritas.

Upaya untuk menyampaikan informasi dengan cepat namun bertanggung jawab menjadi kunci agar manfaat media ini dapat dimaksimalkan tanpa mengorbankan kepercayaan audiens.

Pastikan Anda memilih mitra yang tepat. Tim Radvoice siap menjadi mitra untuk menarasikan brand Anda!



Agen Togel Terpercaya

Bandar Togel

Sabung Ayam Online

Berita Terkini

Artikel Terbaru

Berita Terbaru

Penerbangan

Berita Politik

Berita Politik

Software

Software Download

Download Aplikasi

Berita Terkini

News

Jasa PBN

Jasa Artikel

News

Breaking News

Berita