Cara Menulis Pitch ke Media agar Direspons Jurnalis
Setiap hari, jurnalis menerima puluhan hingga ratusan email melempar. Sebagian besar diabaikan, bukan karena topiknya tidak menarik, tetapi karena cara penyampaiannya tidak relevan, terlalu panjang, atau tidak jelas.
Jika ingin dilirik media, memahami cara menulis melempar yang tepat bukan lagi menjadi nilai tambah, melainkan sebuah kebutuhan.
Bagaimana cara menulis melempar ke media dengan benar agar direspons oleh jurnalis? Berikut RadVoice Indonesia merangkumnya untuk Anda.
Baca juga: Apa Itu Pitch Deck? Arti, Fungsi, Cara Membuat, dan Contohnya
Memahami Fungsi Melempar di dalam Hubungan Media
Sebelum membuat melempar, perlu tahu apa itu melempar dan tujuannya, kapan harus mengirim melempardan juga perbedaan melempar dan siaran pers. Berikut adalah rangkuman yang dilansir dari Cision.
Apa Itu Melempar dan Tujuannya
Promosi media (juga dikenal sebagai Promosi PR, promosi persatau nada cerita) adalah proposal singkat yang dikirim oleh praktisi PR kepada jurnalis atau media untuk menawarkan ide cerita yang berpotensi diliput.
Bagi jurnalis, ide cerita sebenarnya bukan hal yang kurang; mereka justru menerima lebih dari 50 melempar setiap minggu. Tantangan utamanya adalah menemukan melempar yang benar-benar relevan dengan fokus liputan dan audiensnya.
Karena itu, riset yang mendalam menjadi kunci penting dalam proses anggukan. Tim PR perlu memahami topik yang biasa diliput, gaya penulisan, serta preferensi tiap jurnalis. Dengan begitu, melempar dapat dipersonalisasi dan memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan perhatian.
Baca juga: Mengenal Creative Brief: Panduan Brand untuk PR Agency
Kapan Harus Mengirim Melempar
Anggukan paling efektif dilakukan ketika Anda memiliki cerita yang:
- Terkait dengan berita terbaru atau tren yang sedang berkembang
- Memposisikan brand Anda sebagai pemimpin pemikiran di industrinya
- Memberikan sudut pandang baru terhadap liputan yang sudah pernah dibuat jurnalis
- Menawarkan eksklusif atau informasi yang masih di bawah embargo
Perbedaan Melempar dan Siaran Pers
Melempar ditujukan kepada jurnalis secara individual dan bersifat lebih percakapan, sementara siaran pers adalah pernyataan resmi yang disebarkan ke audiens yang lebih luas.
Siaran pers digunakan untuk mengumumkan berita penting seperti peluncuran produk, akuisisi, penunjukan eksekutif, acara, dan pencapaian besar lainnya. Meskipun sudah ada sejak lama dalam industri PR, siaran pers tetap menjadi standar utama.
Dari sisi fungsi, siaran pers lebih baik untuk penyebaran informasi secara serentak kepada media, pemangku kepentingandan publik, sekaligus mudah diadaptasi menjadi berbagai format konten lain seperti blog, media sosial, skrip video, hingga iklan.
Selain itu, siaran pers juga berperan sebagai sumber informasi utama yang dalam aktivitas PR serta membantu meningkatkan lalu lintas itu situs web melalui tautan terlampir.
Struktur Melempar yang Efektif

Agar melempar ke media tidak diabaikan oleh jurnalis, struktur email perlu disusun dengan jelas dan langsung ke inti. Berikut hal-hal dasar yang wajib ada dalam sebuah melempar yang efektif:
Subjek Email yang Menarik
Subjek email harus singkat, jelas, dan cukup kuat untuk menarik perhatian jurnalis di tengah banyaknya email yang mereka terima setiap hari.
Pembuka yang Singkat dan Relevan
Bagian pembuka perlu langsung menjelaskan konteks utama tanpa bertele-tele agar jurnalis cepat memahami inti cerita.
Pengiriman Sudut yang Jelas
Angle harus disampaikan dengan tegas dan terfokus sehingga jurnalis langsung menangkap nilai berita dari melempar ditawarkan.
Kesalahan Umum dalam Mengirim Melempar
Mengirim melempar ke media terlihat sederhana, tetapi banyak yang gagal karena kesalahan dasar dalam penyusunan dan pendekatan. Hal-hal kecil seperti struktur email atau cara menindaklanjuti bisa menentukan apakah melempar akan dibaca atau diabaikan.
Baca juga: Do’s and Don’ts dalam Media Relations: Panduan Dasar untuk Menjaga Hubungan dengan Media
Terlalu Panjang dan Tidak Langsung ke Intinya
Melempar yang terlalu panjang membuat jurnalis harus menyaring terlalu banyak informasi sebelum sampai ke inti cerita. Akibatnya, pesan utama jadi tidak langsung terlihat, dan email lebih mudah diabaikan karena terasa melelahkan untuk dibaca.
Tidak Relevan dengan Mengalahkan Jurnalis
Mengirim melempar tanpa pemahaman mengalahkan atau fokus liputan jurnalis membuat isi email terasa tidak berhubungan dengan pekerjaan mereka. Ini sering dianggap sebagai spam karena tidak sesuai dengan kebutuhan atau minat audiens yang mereka liput.
Menindaklanjuti yang Terlalu Agresif
Menindaklanjuti memang penting, tetapi jika dilakukan terlalu sering atau dengan nada mendesak, hal ini bisa terasa mengganggu. Alih-alih meningkatkan peluang respons, pendekatan seperti ini justru bisa membuat jurnalis memilih untuk tidak melanjutkan komunikasi.
RadVoice, sebagai PR agenmembantu bisnis dalam merancang PR kalender konten melalui perencanaan yang matang dan membangun kredibilitas brand Anda.
Pendekatan RadVoice dapat menggabungkan pemahaman media, penulisan rilis sesuai standar jurnalistik, serta distribusi ke media yang relevan.
Kesimpulan

Menulis melempar ke media bukan hanya soal menyampaikan informasi, tetapi juga soal bagaimana membuat jurnalis merasa bahwa cerita tersebut relevan untuk mereka dan audiens mereka. Melempar yang efektif biasanya singkat, jelas, dan langsung menonjolkan sudut yang kuat tanpa bertele-tele.
Dengan memahami kebutuhan jurnalis, melakukan riset yang tepat, serta menghindari kesalahan umum seperti email yang terlalu panjang atau menindaklanjuti yang agresif, peluang untuk diliput media akan meningkat secara signifikan.
Pada akhirnya, kualitas pendekatan dalam anggukan sering kali lebih menentukan daripada sekadar seberapa menarik topiknya. Jika ingin meningkatkan peluang diliput media, tim PR seperti RadVoice dapat membantu menyusun sudut dan melempar yang lebih tajam dan relevan dengan kebutuhan jurnalis.

PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.