Semua Orang Bisa Menulis, Lalu Apa Arti Menjadi Penulis?
7 mins read

Semua Orang Bisa Menulis, Lalu Apa Arti Menjadi Penulis?

Belakangan ini, ungkapan “siapa pun bisa jadi penulis” sering muncul di media sosial. Mulai dari TikTok, X, hingga Medium, banyak orang membagikan pengalaman mereka menulis.

Jika dulu gelar “penulis” sering dikaitkan dengan mereka yang bekerja di media, menerbitkan buku melalui penerbit besar, atau memiliki latar belakang pendidikan di bidang sastra dan jurnalistik. Sekarang sudah banyak yang menerbitkan buku secara mandiri, membangun audiens lewat buletinatau sekadar menuangkan pemikiran dalam bentuk esai dan jurnal pribadi.

Menurut Backlinko, Substack, sebuah platform yang mengirim karya penulis langsung ke pembaca, memiliki lebih dari 35 juta langganan aktif dan 5 juta langganan berbayar di seluruh dunia, menunjukkan semakin besarnya jumlah penulis yang memilih menerbitkan karya secara independen melalui buletin.

Perubahan ini ikut menggeser cara kita memandang profesi penulis. Lalu, apakah benar semua orang bisa menjadi penulis?

Dalam artikel ini, RadVoice Indonesia akan membahas bagaimana tren tersebut mengubah dunia menulis, peran kecerdasan buatan (AI) dalam proses kreatif, serta apa artinya bagi penulis dan media konvensional.

Bagaimana Dunia Menulis Berubah?

Berkat platform digital, menulis kini semakin mudah diakses dan membuka lebih banyak pilihan karier. (Semua foto oleh Magnific)

Dunia menulis telah berkembang jauh dari peran tradisional seperti wartawan atau novelis.

Seiring pertumbuhan industri digital, profesi berbasis keterampilan menulis semakin beragam, mulai dari penulis konten, copywriter, penulis teknis, UX penulis, ke AI penulis cepat. Sekarang, siapa pun dapat mulai menulis, belajar secara mandiri, membagikan karyanya kepada publik, dan membangun kredibilitas melalui konsistensi.

Namun, bukan berarti menulis adalah keterampilan yang muncul begitu saja. Menulis tetap membutuhkan latihan, membaca dan kemauan untuk terus berkembang.

Terlebih, menjadi penulis bukan semata-mata soal profesi atau gelar, melainkan kebiasaan untuk terus berpikir, mengamati, dan menuangkan gagasan ke dalam tulisan.

Selama seseorang bersedia belajar dan terus berlatih, latar belakang bukanlah penghalang untuk menjadi penulis yang baik. Apalagi sekarang banyak platform yang bisa Anda gunakan untuk menulis seperti Substack atau Medium.

Artinya, peluang untuk menulis kini tidak hanya lebih mudah diakses, tetapi juga semakin luas dalam pilihan karier dan cara berkarya.

Dampak Positif dan Negatif Tren Ini

3 Tips Menulis Artikel Pajak yang Menarik Bagi Pemula
AI memudahkan siapa pun mulai menulis, tetapi tanggung jawab atas akurasi, konteks, dan kualitas tulisan tetap berada di tangan penulis.

Namun, tren ini tidak diterima baik oleh semua orang. Di satu sisi, semakin banyak orang yang menulis berarti semakin banyak pula perspektif yang muncul.

Pengalaman yang sebelumnya tidak mendapat ruang di media konvensional kini bisa dibagikan melalui platform seperti Substack dan Medium.

Akses terhadap dunia menulis pun menjadi lebih luas karena siapa saja dapat mulai berkarya tanpa harus menunggu penerbit atau redaksi menerima.

Namun, kemudahan tersebut juga memiliki konsekuensi. Contohnya dapat dilihat di platform Substack.

Dalam survei terhadap 2.000 pengguna, sekitar 45,4% responden mengaku menggunakan AI sebagai bagian dari proses menulis mereka.

Survei tersebut juga menunjukkan bahwa penggunaan AI lebih umum di kalangan yang membahas topik teknologi dan bisnis.

Sebagian besar memanfaatkan AI sebagai alat bantu, misalnya untuk menyusun kerangka tulisan, menyunting tata bahasa, atau mencari inspirasi, bukan untuk menghasilkan artikel akhir.

Meski demikian, meningkatnya penggunaan AI juga menimbulkan tantangan baru. Hasil yang diberikan AI tidak selalu akurat dan belum tentu melalui proses verifikasi atau pengecekan fakta.

Karena itu, tanggung jawab untuk memeriksa kembali informasi, menambahkan konteks, dan memastikan kualitas tulisan tetap berada di tangan penulis.

AI dapat membantu memperbaiki salah ketikmemilih kosakata yang lebih tepat, menghilangkan pengulangan, hingga merapikan struktur tulisan. Kemudahan inilah yang membuat semakin banyak orang berani mulai menulis.

Dulu, seseorang mungkin ragu membagikan tulisannya karena tidak memiliki editor atau takut melakukan banyak kesalahan. Kini, AI membantu menurunkan hambatan tersebut. Siapa pun dapat belajar, menulis, lalu langsung membagikan karyanya kepada publik.

Namun, AI tetaplah alat. Ia tidak memiliki insting manusia, tidak memahami emosi, dan sering kali tidak menangkap konteks yang ingin disampaikan penulis.

Akibatnya, tulisan memang menjadi lebih rapi, tetapi terkadang kehilangan karakter dan terdengar seragam atau robotik.

Baca juga: Bagaimana Peran Pendidik Bergeser di Era ChatGPT Menurut Johan Purnama

Apa Artinya Bagi Media Konvensional?

Di tengah banjir konten, kredibilitas, verifikasi fakta, dan proses editorial menjadi nilai utama yang membedakan media konvensional.

Fenomena ini tidak berarti media konvensional akan hilang. Sebaliknya, perannya justru bergeser.

Jika dulu media menjadi satu-satunya pintu bagi penulis untuk menerbitkan karya, kini siapa pun bisa membangun audiens sendiri melalui platform seperti Substack.

Namun, kebebasan itu juga diiringi persaingan yang sangat ketat.

Laporan Asosiasi Media Berita Internasional (INMA) menunjukkan bahwa meski Substack memiliki puluhan ribu penulis, hanya sebagian kecil yang mampu memperoleh pendapatan besar. Mayoritas tetap kesulitan membangun audiens dan menghasilkan pendapatan yang berkelanjutan.

Di tengah banjir konten, kekuatan media konvensional justru terletak pada proses editorial, verifikasi fakta, dan kredibilitas.

Ketika semua orang bisa menerbitkan tulisan, kepercayaan pembaca menjadi nilai yang semakin penting.

Baca juga: Media Angle: Kunci Utama agar Brand Mudah Diliput Media

Kesimpulan

Pada akhirnya, siapa pun bisa menjadi penulis, tetapi kualitas, kredibilitas, dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi akan menjadi pembeda utamanya.

Pada akhirnya, siapa pun bisa menjadi penulis. Menulis bukan lagi profesi yang hanya dimiliki beberapa orang, melainkan keterampilan yang bisa dipelajari siapa saja.

Namun, kemudahan untuk menulis juga membawa tanggung jawab yang lebih besar.

AI dapat membantu proses menulis, tetapi tidak bisa menggantikan penilaian, verifikasi, dan sudut pandang manusia.

Di tengah semakin banyaknya tulisan yang beredar, kualitas dan kredibilitas akan menjadi pembeda utama.

PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch