Fenomena Deinfluencing, Bagaimana Brand Harus Bersikap
8 mins read

Fenomena Deinfluencing, Bagaimana Brand Harus Bersikap

Fenomena menghilangkan pengaruh menjadi angin segar di tengah budaya konsumtif masyarakat digital.

Sebab, adanya menghilangkan pengaruh ini mendorong masyarakat untuk tidak terlalu mudah mengeluarkan uang untuk belanja.

Lantas, apa sih sebenarnya menghilangkan pengaruh itu? Sejauh apa pengaruhnya kepada perusahaan?

Tim RadVoice akan membahas lebih dalam tentang fenomena tersebut di dalam artikel ini.

Apa Itu Deinfluence?

Influencer bisa memengaruhi orang lain baik secara langsung atau tidak langsung. (Foto oleh Magnific)

Singkatnya, seorang pemberi pengaruh atau pemengaruh adalah sosok di media sosial yang secara langsung atau tidak langsung memengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu, termasuk membeli produk.

Istilah pemberi pengaruh mungkin bukan kata yang asing bagi Anda yang setiap harinya berkutat dengan internet.

Kini muncul sebuah istilah menghilangkan pengaruh yang merupakan memiliki kegiatan berkebalikan dengan seorang pemengaruh.

Dirangkum dari artikel “The dawn of ‘deinfluencing’ as a vehicle for moral responsibility and anti-consumption” dalam jurnal Jurnal Penelitian Bisnis 202 (2026), fenomena ini bisa dipahami sebagai aktivitas merekomendasikan orang agar tidak membeli produk.

Aktivitas menghilangkan pengaruh berarti seseorang memberikan review terhadap suatu produk dan menunjukkan alasan kenapa barang itu sebaiknya tidak dibeli.

Tujuan dari tren ini adalah supaya para konsumen tidak membeli barang yang tidak perlu atau produk dengan harga terlalu mahal.

Baca juga: Mengapa Komunitas Semakin Populer? Memahami Fenomena Orang Berkumpul karena Hobi

Deinfluence di Tengah Konsumerisme

Belanja online

Fenomena deinfluencing muncul di tengah perilaku konsumtif. (Foto oleh Magnific)

Tidak sedikit orang yang saat ini lebih memilih membeli barang on line daripada datang langsung ke toko. Selain lebih praktis, belanja on line bisa lebih murah dan memiliki banyak pilihan.

Namun, sudah jadi rahasia umum jika barang yang dibeli secara on line sering kali memiliki kualitas yang tidak sesuai klaim penjual.

Akhirnya, para calon konsumen mencari tinjauan yang biasanya bermunculan di kolom komentar perdagangan elektronik, hingga media sosial seperti TikTok atau Instagram.

Meski begitu, deretannya tinjauan produk itu belum tentu sesuai ketika barang aslinya sampai di tangan konsumen.

Hal ini pun memunculkan rasa kecewa karena ternyata tinjauan yang beredar tidak sesuai dengan produk aslinya.

Prasangka buruk pun muncul, seperti rasa curiga kalau tinjauan yang ada di media sosial ataupun kolom komentar tidak jujur.

Perlahan, review di media sosial tidak lagi dipercaya. Komentar pemberi pengaruh pun tidak lagi dijadikan pedoman utama untuk membeli suatu produk on line.

Fenomena menghilangkan pengaruh akhirnya muncul di tengah perilaku konsumtif masyarakat digital.

Mulai muncul deinfluencer atau orang yang memberikan alasan untuk tidak membeli suatu produk.

Pembuat konten tersebut akan memberikan saran realistis kepada konsumen. Bahkan, di TikTok konten semacam ini memiliki tagar sendiri yakni #deinfluencing.

Dikutip dari detik.com, melalui tagar ini, para kreator membuat konten soal produk yang ternyata tidak seefektif diklankan oleh pemberi pengaruh.

Baca juga: AI Mengubah Cara Kerja PR, Ini yang Harus Dilakukan Praktisi agar Tetap Relevan

Deinfluence Bikin Konsumen Lebih Bijak

Belanja on line bisa dilakukan dengan sangat mudah. Tidak perlu keluar rumah, cukup melalui ponsel, dan transaksi bisa dilakukan kapan saja.

Tidak heran jika aktivitas ini mendorong orang untuk belanja terus tanpa berpikir panjang. Tiba-tiba saldo menipis padahal masih tengah bulan.

Hadirnya tren menghilangkan pengaruh membuat konsumen menjadi lebih bijak dalam belanja. Sebab, ternyata barang yang tadinya ingin dibeli belum tentu memiliki kualitas baik setelah di-tinjauan.

Tren ini juga mendorong agar calon konsumen bisa memilih barang yang harus segera dibeli atau bisa ditunda dulu.

Secara keuangan, tren ini tentunya akan sangat membantu Anda yang memiliki kecenderungan belanja tanpa pikir panjang.

Fenomena ini juga berdampak luas yakni mengurangi limbah. Sebab, jika produk yang dikonsumsi berkurang maka jumlah sampah pun ikut turun.

Tapi Deinfluence Bisa Jadi Salah Kaprah

Ulasan buruk

Influencer bisa salah kaprah tentang konten deinfluencing. (Foto oleh Magnific)

Tujuan utama menghilangkan pengaruh adalah supaya calon konsumen memikirkan kembali sebelum membeli suatu produk.

Berbagai pertimbangan pun dimunculkan, seperti kualitas produk, urgensi, hingga kecocokan barang pada tiap individu.

Namun, di satu sisi, fenomena ini bisa salah kaprah jika tujuannya semata-mata menjelekkan suatu produk atau brand.

Dikutip dari Center for Digital Society, di Indonesia fenomena ini malah kerap menjadi sarana pemberi pengaruh untuk membongkar produk yang tidak cocok untuk mereka.

Padahal, tentu setiap barang tidak selalu cocok untuk semua orang. Apalagi dalam hal produk perawatan kulit yang akan bereaksi berbeda di setiap individu.

Ujungnya, pemberi pengaruh yang salah kaprah itu malah merekomendasikan produk lain yang lebih cocok bagi mereka.

Tujuan utama supaya calon konsumen tidak impulsif pun tidak tercapai karena pada akhirnya ada dorongan untuk membeli produk lain.

Akhirnya, kesalahpahaman terhadap fenomena menghilangkan pengaruh bisa merugikan suatu brand sekaligus konsumen.

Baca juga: 5 Cara Membuat Company Profile yang Menarik

Apa yang Harus Dilakukan Brand?

Masih di dalam penelitian yang dimuat Jurnal Penelitian Bisnis 202calon konsumen merasa konten menghilangkan pengaruh membuat mereka menjadi pembeli yang bertanggung jawab.

Konten menghilangkan pengaruh membantu para calon konsumen memutuskan membeli atau tidak suatu produk.

Hal ini berarti citra sebuah produk atau brand bisa sangat berubah di mata konsumen akibat konten menghilangkan pengaruh.

Fakta ini pun harus ditanggapi serius oleh brand supaya tidak berpengaruh buruk pada penjualan.

Adanya fenomena ini mendorong brand untuk memberikan kualitas terbaik dalam setiap produknya agar tidak mudah tersingkir.

Geser fokus bukan semata-mata membangun promosi, tapi membuat produk yang berkualitas.

Selain itu, klaim yang diberikan terhadap suatu produk harus sesuai aslinya tanpa ada klaim berlebihan.

Sebab, para calon konsumen sudah semakin kritis sebelum mereka membeli suatu barang.

Jika ada konten menghilangkan pengaruh memberi kritik, maka brand harus menjawab dengan responsif, bukan defensif.

Artinya, kritik harus dijawab dengan data atau menawarkan solusi konkret untuk konsumen.

Kesimpulan

Fenomena menghilangkan pengaruh bisa mengurangi perilaku konsumtif masyarakat digital di tengah perekonomian yang bergerak begitu cepat.

Namun, konsumen harus bisa membedakan konten yang memang bertujuan mengajak mereka berpikir kritis, atau sengaja dibuat untuk menjelekkan suatu produk.

Di satu sisi, brand harus menanggapi fenomena menghilangkan pengaruh dengan bijak dan mengutamakan citra produk.

Hindari menjawab kritik dengan reaktif atau defensif, tetapi lebih responsif serta memberikan bukti atau solusi konkret.

Jika brand Anda ingin membangun komunikasi yang lebih bermakna dan menciptakan hubungan yang bertahan lebih lama dengan audiens, tim Suara Rad siap membantu kebutuhan bisnis Anda.

PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch