7 Kesalahan Bahasa yang Sering Muncul di Media Online
7 mins read

7 Kesalahan Bahasa yang Sering Muncul di Media Online


Di era media digital, bahasa bukan sekadar alat menyampaikan informasi. Ia menjadi penentu apakah pembaca akan bertahan membaca atau langsung menutup halaman.

Di tengah tuntutan kecepatan, SEO, dan persaingan klik, kesalahan bahasa kerap muncul dalam pemberitaan digital, bukan karena jurnalis tidak memahami kaidah, melainkan karena ritme kerja yang semakin cepat dan padat.

Kesalahan bahasa di media on line ini sering dianggap sepele. Padahal, pilihan kata, struktur kalimat, hingga nada penulisan berperan besar dalam membentuk kredibilitas media di mata publik.

Mengapa Bahasa Menjadi Tantangan di Media On line?

Bahasa jurnalistik harus jelas, ringkas, dan presisi agar informasi dapat dipahami dengan cepat tanpa kehilangan akurasi. (Foto oleh kaboompics/Freepik).

Jurnalisme digital menuntut kecepatan. Berita harus tayang secepat mungkin, sering kali dalam hitungan menit. Kondisi ini membuat proses penyuntingan bahasa menjadi semakin singkat, bahkan kadang terlewat.

Di sisi lain, pola baca audiens on line juga berubah, pembaca cenderung membaca cepat, melompat antar paragraf, dan sangat sensitif terhadap judul.

Menurut Study Smarter, bahasa jurnalistik harus jelas, ringkas, dan presisi agar informasi dapat dipahami dengan cepat tanpa kehilangan akurasi. Tantangannya, prinsip ini justru sering tergerus ketika kecepatan menjadi prioritas utama.

Baca juga: Menulis Opini di Media: Tujuan, Manfaat, dan Tips Agar Tulisan Dimuat

Kesalahan Bahasa yang Sering Muncul di Media On line

kesalahan bahasa media online
Ketika pembaca merasa isi berita tidak memenuhi ekspektasi yang dibangun oleh judul, kepercayaan terhadap media perlahan terkikis. (Foto oleh Freepik).

Kesalahan bahasa dalam media daring sering kali muncul bukan karena kurangnya pemahaman jurnalis terhadap kaidah penulisan.

Sebaliknya, kesalahan tersebut lahir dari ritme kerja media digital yang serba cepat, tuntutan publikasi instan, serta tekanan untuk terus relevan di tengah arus informasi yang padat.

Dalam situasi seperti ini, bahasa kerap menjadi bagian yang paling mudah dikompromikan.

Beberapa hal yang terlihat sepele, mulai dari judul yang terlalu sensasional hingga kalimat yang berbelit, dapat memengaruhi cara audiens memaknai berita secara keseluruhan.

Di bawah ini adalah sejumlah kesalahan bahasa yang paling sering muncul dalam praktik berita on line dilansir dari berbagai sumber.

1. Judul Tidak Sinkron dengan Isi Berita

Dalam praktik media on linejudul sering menjadi alat utama untuk menarik perhatian pembaca. Namun, dorongan untuk mengejar klik membuat judul kerap dirancang lebih sensasional dibandingkan isi berita itu sendiri.

Penelitian berjudul ‘Jurnalisme Clickbait Di Era Digital’ oleh Yasundari dkk. (2024), di media daring Indonesia menunjukkan bahwa judul sering menonjolkan unsur rasa penasaran dan dramatisasi, sementara isi berita tidak selalu memberikan informasi yang sepadan atau mendalam. Ketimpangan ini membuat judul berfungsi sebagai umpan, bukan ringkasan informasi.

umpan klik bukan berarti menipu. Yang penting isi artikelnya sesuai dengan judulnya,” ungkap Inas Widyanuratikah, asisten editor tvOnenews.com.

Ketika pembaca merasa isi berita tidak memenuhi ekspektasi yang dibangun oleh judul, kepercayaan terhadap media perlahan terkikis. Judul yang tidak sinkron dengan isi mendorong pembaca bersikap skeptis, bahkan sebelum membaca berita berikutnya dari media yang sama.

Dalam jangka panjang, praktik ini berkontribusi pada persepsi bahwa media lebih mementingkan trafik daripada akurasi informasi.

Baca juga: Bagaimana Masa Depan Media dengan Model Bisnis Berlangganan?

2. Kalimat Terlalu Panjang dan Berlapis

Menurut blog The University of Edinburg, kalimat yang pendek adalah pondasi dari bahasa yang jelas/sederhana di dunia digital.

Penggunaan kalimat yang terlalu panjang dan kompleks justru menghambat aksesibilitas dan memaksa pembaca melakukan upaya ekstra untuk memahami pesan, yang sering kali berujung pada hilangnya minat pembaca.

Penulis terutama jurnalis sering menulis kalimat panjang karena ingin terlihat sangat akurat atau detail. Namun, di web, ini justru menjadi bumerang karena tingkat konsentrasi pembaca on line sangat rendah.

3. Penggunaan Kata-kata Aman yang Berlebihan

Dalam menulis sebuah berita, penting bagi jurnalis untuk menekankan atribusi demi menjaga akurasi.

Akan tetapi, penggunaan kata-kata pengaman seperti ‘diduga’ atau ‘dikabarkan’ yang berlebihan justru dapat mengaburkan fakta.

Dalam studi komunikasi, istilah ini sering disebut sebagai Kata Musang atau kata-kata musang yang digunakan untuk memberi kesan bahwa sesuatu yang penting telah dikatakan, padahal sebenarnya hanya pernyataan ambigu untuk menghindari tanggung jawab.

Penggunaan yang berulang mencerminkan keraguan penulis dalam melakukan verifikasi atau periksa dan periksa kembali yang seharusnya menjadi pilar utama jurnalisme sebelum berita tayang.

4. Pilihan Diksi Sensasional Tanpa Konteks

kesalahan bahasa media online
Kesalahan bahasa yang berulang membentuk persepsi pembaca terhadap kualitas media. (Foto oleh Rawpixel.com/Freepik).

Istilah sensasional sering digunakan sebagai jalan pintas untuk menarik perhatian pembaca. Kata-kata seperti virus atau heboh kerap hadir tanpa penjelasan tentang skala, dampak, atau relevansi peristiwa yang diberitakan.

Sebuah studi dari jurnal “Tinjuan Tentang umpan klik di Media” (Commed: Jurnal Komunikasi dan Media, Vol. 7 No. 1, 2022) menunjukkan bahwa praktik umpan klik di media on line sering melibatkan penggunaan judul yang sensasional dan bombastis untuk menarik klik pembaca.

Penelitian ini menemukan bahwa judul seperti itu cenderung menciptakan kesenjangan informasi antara judul dan isi berita, sehingga konteks sebenarnya dari konten sering terabaikan atau dikorbankan demi menarik perhatian dan meningkatkan lalu lintas situs.

5. Campuran Bahasa Formal dan Santai dalam Satu Teks

Masuknya budaya media sosial ke ruang redaksi memengaruhi gaya bahasa berita. Bahasa yang lebih santai dianggap mampu mendekatkan media dengan audiens muda, namun sering kali tidak diimbangi dengan konsistensi editorial.

Perpaduan bahasa formal dan santai dalam satu artikel membuat nada tulisan terasa tidak stabil. Pembaca bisa kehilangan orientasi: apakah teks tersebut berita, opini ringan, atau konten hiburan.

Baca juga: Bagaimana Media Massa Memengaruhi Audiens: Pengertian, Teori, dan Contohnya

6. Kutipan Panjang Tanpa Editan

Kutipan narasumber sering ditampilkan apa adanya, menyerupai transkrip wawancara. Bahasa lisan yang tidak disunting membuat teks terasa bertele-tele dan sulit dipahami.

Penyuntingan kutipan bukan berarti mengubah makna, melainkan membantu pembaca menangkap inti informasi dengan lebih efisien dan jelas.

7. Istilah Asing yang Tidak Dijelaskan

Penggunaan istilah asing atau jargon tanpa penjelasan mengandaikan pembaca memiliki latar pengetahuan yang sama dengan jurnalis atau narasumber.

Asumsi ini berisiko mengecualikan pembaca awam dan mempersempit jangkauan informasi. Bahasa berita seharusnya membuka akses, bukan membatasi.

Dampak Kesalahan Bahasa terhadap Kredibilitas Media On line

kesalahan bahasa media online
Kesalahan kecil yang terus diulang dapat menghasilkan dampak besar dalam jangka panjang. (Foto oleh Rawpixel.com/Freepik).

Reuters Institute (2022) dalam Laporan Berita Digital menyoroti bahwa kompleksitas dan ketidakjelasan bahasa merupakan penghalang utama dalam retensi audiens.

Hal ini menunjukkan bahwa konsistensi dalam penyampaian yang jelas adalah fondasi bagi kepercayaan publik di ekosistem digital.

Kesalahan bahasa yang berulang membentuk persepsi pembaca terhadap kualitas media. Kejelasan bahasa dan konsistensi penyampaian informasi berkorelasi dengan tingkat kepercayaan publik terhadap media daring. Kesalahan kecil yang terus diulang dapat menghasilkan dampak besar dalam jangka panjang.

Baca juga: Salah Menulis Headline di Pemberitaan, Bagaimana Media Memperbaikinya?

Kesimpulan

Kesalahan bahasa dalam berita on line merefleksikan tekanan dan tantangan jurnalisme digital, sekaligus menunjukkan area yang masih bisa diperbaiki.  Akan tetapi, menjaga kualitas bahasa di media on line bukan berarti mengorbankan kecepatan.

Peran editor dan kebiasaan mengedit sendiri menjadi kunci untuk memastikan ketepatan informasi. Bahasa adalah tanggung jawab editorial, bukan sekadar urusan teknis penulisan.

Dalam lanskap media yang kompetitif, ketepatan bahasa tetap menjadi fondasi utama kepercayaan publik.

Menemukan keseimbangan antara cepat dan tepat menjadi tantangan utama jurnalisme digital hari ini.

Hubungi RadVoice Indonesia untuk memastikan setiap konten yang Anda publikasikan akurat, jelas, dan kredibel di mata pembaca maupun media.

Agen Togel Terpercaya

Bandar Togel

Sabung Ayam Online

Berita Terkini

Artikel Terbaru

Berita Terbaru

Penerbangan

Berita Politik

Berita Politik

Software

Software Download

Download Aplikasi

Berita Terkini

News

Jasa PBN

Jasa Artikel

News

Breaking News

Berita